Tulisan Anak Desa

Cara menghilangkan Rasa Sakit Saat Patah hati




Patah hati itu sakit, tapi sakitnya beda. Lukanya gak bisa diperban, ato rasanya gatalll, pengen garuk  tapi gak tau dimana tempat gatalnya. Di sini saya mau share cara ngilangin rasa sakit waktu patah hati, inget ya rasanya bukan kenangannya karena kalo lupa kenangannya maka lupa juga pelajaran dari kejadian patah hati tersebut. Sebenarnya banyak cara sih, Cuma yang mausaya share adalah cara yang paling mudah dimana kamu gak perlu orang lain buat melakukannya. OK check it out!

- rubah posisi atau suasana kamarmu. 

Kebanyakan orang kalo lagi patah hati pasti ke kamar, merenung. Nah oleh sebab itu cobalah sekarang mulai deh ubah suasana kamarmu, letak tempat tidur, lemari atau bahkan mengecatnya kembali akan membuat suasana baru di dalam hidupmu. Gak percaya? Try It! Tak jamin bakal ada perubahan deh.

- cobalah kamu menanam sesuatu.

Percayakah kamu kalo sebuah kehidupan adalah sebuah keajaiban dan karunia Tuhan yang paling menakjubkan, dan untuk itu cobalah ikut berperan dalam keajaiban itu. Nah cobalah menanam sesuatu seperti tomat atau bunga’, rawatlah hingga berbunga atau pun berbuah, gak perlu banyak kok 3 sampai 5 batang cukup. Tapi tidak dianjurkan buat nanam durian atau belimbing, pliss itu lama banget.


- atur ulang playlist iTunes mu atau music playermu. 

Kamu punya HP? Ada pemutar musiknya? Kalo ada segera hapus semua lagu itu. Dan gantilah dengan lagu-lagu baru yang sama sekali belum pernah kamu dengar atau lagu” terserah yang penting segera ganti playlist kamu. Dulu saya pernah mencobanya dn ternyata berasa kok efeknya. Terserah mau lagu mellow atau ngebit sekalipun. But I recommend rock-alternative, because the lyrics often inspires one.

- belajar music? Sounds good. 

Gak bisa dipungkiri kalo music adalah sesuatu yang ….. , meski agak ngeluarin modal dikit tapi cara ini terbilang ampuh kok. Ayo tentukan alat music apa yang pengen kamu bisa, kalo udah tentukan lagu apa yang pengen kamu kuasai. Kalo misal kamu gagal, kan seenggaknya kamu bisa salah satu alat musik. Dulu saya pernah, dan saya coba lampiasin belajar alat music Launchpad nnn taraaaa it seems working. Oya kalo gak mau bisa kok belajar jahit, but it is not working to me, karena aku gak telaten.


- cari barang rusak, 

di sini yang saya maksud itu barang’ elektronik yang rusak, kamu punya kipas angin rusak, gosokan rusak atau bahkan radio rusak. Mengapa tidak diperbaiki? Segera cari tahu apa kerusakannya dan cari gimana cara ngatasinnya (googling kalo kagak tahu) habis tuh beli alatnya dan taraaaaa, akhirnya bisa liat pilem dari DVD rusakmu hehehehe.

Well itu dia cara buat ngilangin sakit saat patah hati, please ya ini bukan buat ngilangin kenangan lo ama dia. Jangan pernah ada waktu buat nenangin diri ketika kamu ketika patah hati, karena ketika kamu nenangin diri otomatis kamu bakal sendirian merenung, dan di saat itulah kamu bakal kepikiran yang gak seharusnya keinget. Jangan nonton pilem jenis apapun, bahkan warkop. And this is jangan share apapun ke social mediamu, biar urusan hatimu biar hati yang tahu, jangan biarin facebook, bbm, twitter, Instagram tahu urusan mu, memangnya siapa mereka???? Mau hang out? Boleh, tapi itu perlu budget, dan inget jangan hang out ke tempat wisata, hang outlah ke rumah saudara  atau mbah di desa yang penting tempat keluarga, inget jangan di tempat wisata. And the most important belilah seekor ayam lalu peliharalah dan kemudian bacalah Al-Qur’an sampai katam, nah tuh ayam ntar di potong buat slametan kamu kataman, belum pernah kataman Qur’an sendiri kan??

Good Bye

Diary Dadakan : Antara Aku, Pengawas Ujian, dan Garnier



Aku masih ingat kejadian ini terjadi. Saat itu aku sedang mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Pada waktu itu semua peserta telah siap mengerjakan soal tes itu. Aku tidak akan bercerita tentang soal itu. Karena kalian semua sudah pada tahu kalau soal tes nya memang aje gile.
Yang perlu kalian pertama tahu, semua peserta ujian diharapkan membawa kartu identitas, entah itu KTP, SIM, Kartu OSIS, Kartu Ujian, pokoknya yang penting ada nama dan foto kamu.
Di menit2 pertengahan sewaktu aku mengerjakan soal tes masuk, pengawas ujian di ruanganku berkeliling menanyakan kartu identitas, yah gunanya sih biar gak ada yang curang misal pake Joki ataupun alien yang dating dari masa depan. Aku sih tenang saja lha wong aku bawa identitasku bekas Kartu Ujian Nasional SMA.
Singkat cerita tibalah di bangkuku, pengawas menanyakan kartu identitasku.

Pengawas    : “Maaf dek, bisa diperlihatkan kartu identitasnya?”
Aku             : “Oh ini Pak.”
(aku menyerahkan bekas kartu ujian nasionalku)

kemudian Pengawas mulai melihat kartuku sambil sesekali melihatku yang sedang mengerjakan soal. Pengawas itu tidak beranjak dari tempatku, aku mulai deg degan. Apakah mungkin gak bisa pake bekas kartu ujian? Tapi kulihat tadi didepan sebelum aku banyak yang menggunakan kartu Ujian nasional mereka, atau mungkin kartu ujianku beda? Atau aku salah mengambil tempat duduk yang seharusnya ini bukan tempat duduk ujian masukku. Ah pusing!! Kemudian pengawas bertanya kepadaku,

Pengawas    : “Maaf ini kok kamu wajahnya beda sih dengan yang ada di kartu identitas? Kamu Joki ya? Wah bahaya ini, ini masalah besar. Coba anda jelaskan!

Jujur aku tambah deg-degan, masa iya sih aku salah bawa kartu ujian yang bukan tempatku. Setelah itu aku cek kartu ujianku dan ternyata memang benar, itu benar-benar punyaku. Please aku gak geblek2 amat. Aku lega tapi bingung juga waduh mau jawab apa ini, masa ngeyel sih. Ntar malahan aku diusir dari ruangan. Entah dari mana dan kapan aku dapat wangsit buat jawab tuh intrograsi dari pengawas.

Aku        : “Iya pak, ini benar-benar saya dan dan ini benar-benar kart saya.
Pengawas : "Tapi kok mukanya beda?"
Aku    : "Oh dulu waktu saya foto buat kartu ujian saya belum pake Garnier"

Pengawas itu terdiam mukanya memerah sambil tertawa mingkem dan beranjak dari tempatku. Aman, entah apa yang harus kulakukan, senangkah atau jengkelkah dengan garnier karena telah merubah wajahku.

Pura-Pura Bahagia


Jreng2 blog ku tampilannya baru and I have a new Top Level Domain (TLD) yeyeye. Setelah kemarin jual kambing satu akhirnya bias beli TLD baru. Apa itu TLD? Gak tahu juga aku. Pokoknya ntar blog kita gak pakek dotblogspotdotkom lagi hehehe, tp langsung lebih pendek (kecuali temen2 emangg beli domain yang panjang seperti www.ahmadtoharigantengtakterkalahkandiduniaini.com.

OK BTW sebenarnya bingung mau post apaan, tapi alhamdulillah kemaren aku sempet baca status alay tentang “Pura-Pura Bahagia”. Enggak kok, aku gak bakal nulis tentang diputusin pacar terus kita tetep senyum waktu ketemu dia (yang udah sama orang lain) terus kita tetep pasang muka manis dan tersenyum, yeah actually it is fake smile with stupid face. Tapi aku mau nyeritain sesuatu yang gak ada hubungannya ama mantan, gebetan, move on atau orang utan sekalipun. OK dibaca ya hehehe

Di lingkungan aku dikenal sebagai orang yang suka banget cerita. Apapun kuceritakan, dari horror, lucu misteri, kejelekan temenku ataupun cerita Raffi Ahmad hahaha. Tapi dari semua ceritaku aku gak pernah cerita tentang kesusahan ataupun masalah yang kuhadapi dalam hidupku. Jadinya temen2 ku cuma tahu cerita tentang suka ku dan gak pernah tahu cerita tentang duka yang kualami. So, gak jarang sih temen2 sering nyablak “Enak Har, hidupmu gak pernah susah gak kayak aku”. Hahaha dalam hati aku ketawa (kadang jengkel juga sih). Mereka gak tahu gimana perjuangan ku biar bias kuliah, mulai dari pagi hari nderes karet, habis itu ketika capek belum ilang harus siap2 berangkat kuliah. Mereka juga gak pernah tahu gimana rasanya ngerjain tugas sociolingustics ama grammar di pinggrir kali malem2 sambil nungguin diesel takut diangkut orang. Ya emang sih itu salahku juga, tapi emang aku gak suka nyeritain masalah ke temen2. Kayak gak punya cerita lain aja.

Sebenarnya awal dari kebiasaanku itu dulu ketika aku masih SMA. Aku punya seorang teman, sebut saja namanya Parman. Keriting, kulit hitam dan tinggi kurus. Dia baru saja pindah. Dulunya dia tinggal bersama neneknya. Dan kudengar neneknya meninggal, jadi dia harus kembali ke keluarganya. Dia sama denganku, sama masih SMA seharusnya.

Malam itu seperti biasa, setelah shalat jama’ah maghrib di langgar (surau) kami (temen2 cowok didesaku) ngumpul2 di teras masjid. Kami memang sering kumpul2 cuma untuk bercerita, tapi bukan nggosip. Aku bercerita tentang PENSI yang diadakan di sekolahku, sedangkan temanku yang lain cerita tentang rumput hijau di desa seberang, atau cerita ngangon sapi mereka (emang sih, gak semua teman2ku bisa melanjutkan sekolah denganku.

Dan tiba giliran Parman bercerita, gak banyak sih yang ia ceritakan. Ia menceritakan tentang pengalaman masa kecilnya pergi ke way kambas bersama keluarganya. Dia naik gajah, beli kaos yg ada gambar gajah, obat nyamuk gambar gajah, dan kalau tidak salah martabak (yg ini gak ada gambar gajahnya). Dia juga menambahkan kalo dia juga berfoto dengan gajah. Kami semua cukup antusias dengan cerita dia. Tak lama kemudian waktu isya’ telah tiba dan setelah shalat isya’ kami semua kembali ke rumah masing2.

Keesokan harinya kegiatan kami masih sama, kaya ngomongin cewek disana, modif motor ataupun ada pentas jaranan hahaha. Parman kali ini beda, dia cerita kalau dia dulu waktu tinggal dengan neneknya pernah kehilangan seekor ayam. Padahal ayam itu satu2 nya ayam neneknya. Namun 2 hari kemudian ayam itu kembali tapi dengan kaki yg pincang. Neneknya senang sekali namun juga sedih. Dia tidak tega melihat ayam itu dalam keadaan pincang. Akhirnya neneknya menyuruh Parman memotongnya kemudian neneknya membuat opor dari ayam tersebut. Karena ayam tersebut ayam jago besar, maka dagingnya pun banyak. Akhirnya neneknya dan Parman memberi para tetangga ayam2 tersebut. Begitulah, Parman bercerita dengan sangat gembira. Aku dan kawan2ku yg lain juga ikut tertawa mendengar cerita Parman (meski gak ada yg lucu sih). Dan sperti biasa setelah bercerita kami semua pulang kerumah masing2.

Saat itu pertengahan bulan April, artinya sudh memasuki musim panas. Dan pada saat itu juga sedang musim panen padi. Aku dan teman2ku pun ikut membantu manen padi, tapi bagian kami hanya membawa gabah2 (padi yg sudah dipanen tapi belum jadi beras) itu pulang kerumah. Ketika itu aku dan kawan2ku termasuk Parman kesawah untuk membantu membawa padi. Tapi kami datang terlalu cepat, padi2 itu belum selesai. Akhirnya kami duduk2 sambil menunggu padi2 itu dikarungin. Ketika duduk2 ngumpul Parman bercerita dulu dia dengan neneknya punya pengalaman lucu. Mereka dulu pernah disuruh membantu memanen padi milik tetangganya. Neneknya dan Parman berangkat pagi2 setelah shalat shubuh, ya waktu itu para pekerja yang memanen padi juga belum berangkat. Sampai para pemanen datang, Parman dan Neneknya sudah dapat banyak dan ternyata mereka salah sawah. Sawah yang mereka ambil ternyata bukan sawah yang mereka mau panen. Kami semua tertawa mendengar cerita parman.

Bulan2 selanjutnya Parman sudah lama berteman dengan kami. Tapi kami mulai jengkel dengan parman, bagaimana tidak. Ketika kita semua kumpul2 Parman hanya bercerita ttg Way kambas, cerita memotong ayam ataupun salah panen. Selalu itu saja. Kami bosan dan kadang ketika Parman mau cerita kami malah sibuk sendiri seolah tidak mau dengar cerita dari Parman. Berulang kali dia cerita seperti itu.

1 tahun berlalu, aku sekarang kelas 12 SMA. Suatu ketika aku disuruh ibuku mengantarkan udang dari tambak kerumah Parman. Waktu itu pukul 19:00 malam dan gemuruh suara petir menggelegar tapi ya aku nekat aja, rumahku dengan rumah Parman juga gak jauh2 amat.

Akhirnya aku sampai dirumah Parman, aku masuk disambut oleh ibunya Parman. Parman sendiri tengah mengajari adiknya yang masih SD mengerjakan PR. Ayahnya Parman udah gak ada. Enggak, bukan meninggal kata Parman. Kata ibuku juga aku gak boleh tanya2 soal Ayah Parman ke ibunya, Cuma nambah sedih aja. Aku gak ngerti ada apa dengan ayah Parman tapi sepertinya Ibuku serius dengan ucapannya.

Segera kuberikan udang itu. Ibu Parman senang sekali dengan udang yang kuberikan. Setelah itu Parman berterimakasih padaku. Setelah itu hujan turun deras banget, aku mau pamitan tapi dilarang oleh ibu Parman karena hujannya deras dan anginnya kencang. Aku disuruh menginap. Baiklah aku meniyakan, aku juga belum pernah nginap di rumah parman. Aku segera SMS ibuku kalo aku mau menginap di rumah Parman dan ibuku mengizinkan.

Setelah itu aku ngobrol dengan ibu parman tentang sekolahku, tambak, bahkan sempet nanyain pacarmu yang mana. Karena asyuk tak terasa udah jam setengah sebelas malam. Aku dan Parman akhirnya pergi kekamar tidur Karena kami memang sudah mengantuk sekali.

Aku tercengang dengan kamar Parman, isinya hanya sebuah dipan sempit, dan dipojok kamarnya ada banyak koran bekas, ketika parman kutanya untuk apa koran sebanyak itu Parman menjawab katanya kalo ada waktu senggang buat dibaca2 aja. Gak ada lemari baju di kamar Parman, Karena mungkin lemari baju Parman bergabung (buka megazord tapi. Maksudnya baju Parman dan ibunya jadi satu dalam satu lemari gitu).

Kami tak banyak cerita ketika mau tidur dan akhirnya kami tertidur juga.

Entah berapa lama aku terjaga, kulihat jam arlojiku masih pukul dua pagi. Tapi kulihat Parman sudah tidak ada disampingku. Aku keluar kamar yang kutemui hanya ibunya Parman, ketika kutanya Parman kemana. Katanya dia ke pasar sayur mengantar daun singkong dan bayam dari kebunnya untuk dijual. Karena kalo kesiangan ntar gak laku. Kata ibunya tiap har ya kaya gitu, jam 02 pagi sudah berangkat ke pasar buat jual sayur, kadang kalo gak punya yg dijual mereka membantu menjualkan sayur para tetangga. Haaa tiap hari jam 02 pagi harus kepasar sayur. Padahal pasar sayur itu ada kalo 8 km dari desa kami, dan Parman melakukannya tiap hari? I’m not sure that I’ll be survive on that condition.

Jam 05:30 Parman udah pulang dari pasar sayur, “Eh udah bangun kamu Har!” sapanya. Aku cuma bisa senyum. Parman kemudian istirahat sebentar kemudian minum segelas teh hangat yang dibuat oleh dirinya sendiri. Aku gak banyak tanya atau bicara dengan parman, karena kutahu dia kecapekan. Tapi selanjutnya aku kaget. Parman dan ibunya bersiap2 menuju pinggir kali, katanya sih mau nenok plus nyiramin bayam dan singkong tanamannya. Aku diam saja, kemudian aku pamit pulang sebelum mereka berangkat kira2 pukul 06:00 pagi.

Sampai di rumah aku segera bersiap2 ke sekolah. Di sekolah aku kepikiran tentang sebegitu susahkah kehidupan Parman. Bahkan ketika disuruh keliling lapanagan karena gak bisa ngerjain soal kimia aku juga tetap kepikiran tentang Parman.

Sepulang sekolah aku segera keumah Parman, tapi Parman udah gak di rumah. Ibunya parman sedang bekerja sebagai buruh cabut rumput di ladang tetangga. Sedangkan Parman sedang mencari rumput untuk ke 3 sapi yang dipeliharanya. Bukan, sapi itu bukanlah milik Parman, tapi milik para tetangga yang dipelahara oleh Parman. Aku pulang kerumah karena tidak bertemu Parman.

Maghrib akhirnya datang, seperti biasa aku dan teman2 (termasuk Parman) berumpul di teras masjid ya Cuma untuk nggedubuk (cerita ngalor ngidul) gak jelas. Giliran parman ahirnya bercerita. Ya bisa ditebak, dia becerita tentang liburannya di way kambas. Teman2 ku semua kelihatan bosan dan ogah mendengarkan cerita parman karena cerita itu udah diceritain ratusan kali, mungkin.

Sepulang shalat Isya’ aku menemui Parman. Aku bertanya kenapa dia sering banget nyeritain ttg way kambasnya, motong ayam atau salah manen padi. Padahal aku yakin banyak sekali cerita di kehidupan dia. Parman menjawab, “Memang banyak sekali yang terjadi dalam hidupku Har, tapi aku hanya mau cerita yang senang2 saja, dan Cuma 3 cerita menyenangkan itu yang aku ingat, ingat Har, sebuah bagus tidaknya sebuah kisah itu bergantung pada penceritnya, aku hanya ingin bercerita yang senang2 karena aku mau ketika ada seseorang menanyakan tentang kisahku kepada kalian, kalian akan berkisah tentang kehidupan yang bahagia.” Aku terdiam, dan berpikir dalam.

Esoknya ketika kita bercerita dan Parman bercerita tentang way kambasnya dan lain2 aku tidak lagi bosan mendengarnya, tapi dengan serius kudengarkan walaupun dalam hati aku pengen nangis.

4 bulan berlalu, aku juga udah Ujian Nasional, pagi itu ketika aku akan berangkat sekolah buat maen2 doang (kan abis UN jadi ya kesekolah tinggal maen2 aja) aku denger kabar kalo Parman mau pergi ke Serang untuk kerja. Aku segera kerumah Parman, dan kutanya kenapa kok mendadak sekali. Dia jawab sebenernya gak mendadak, Cuma dia gak cerita aja. Aku membantunya menaikkan ransel ke mobil. Setelah itu dia pamitan kepada ibu, adiknya dan para tetangga sekitar. Lalu yang terakhir kepadaku, namun bukan kalimat perpisahan yang aku dengar darinya.

“Har akhirnya aku punya banyak cerita bahagia yang bisa aku ceritakan kepada orang2 di Serang, cerita tentang kalian, teman2 disini. Makasih banyak lho.” Aku diem gak jawab karena ya ga tau lagi mau jawab apaan.

Sekarang parman kayaknya udah bahagia disana, ibunya juga ikut pindah kesana. Dan ketika kutelepon kebiasaannya gak pernah berubah. Dia gak pernah mau cerita tentang masalah2 atau kejadian buruk yang menimpanya tapi ada satu hal yang berubah, cerita dia jadi banyak dan pastinya gak ngulang2 cerita bahagianya lagi.

Well, sampai sekarang aku ngikutin parman, gak pernah cerita susahku kepada orang lain. Orang lainnya mah tahunya aku selalu senang.

Nah begitulah kisah panjaaaaaaaaaaaaangku, apakah ini nyata atau tidak. It depends on you, but I hope ada pelajaran yang bisa temen2 petik dari cerita diatas.

Kebenaran dari sebuah cerita tergantung kepada penceritanya. Entah itu kisah akan jadi kisah bahgia, sedih atau garing sekalipun tergantung pencerintanya. Ok sampai jumpa lagi di lain kesempatan.

Diary Dadakan : Nasi Goreng Sakti


Aku punya dua adik, yang gede namanya Kholis dan yang sok gede namanya Faiz. Nah kemarin Si Kholis kena sejenis penyakit kulit, namanya Dompoan (aku gak tahu bahasa Indonesianya apaan). Muncul bentol2 kecil di perutnya dan katanya sih itu gatel dan panas. Ternyata setelah ku pegang badannya emang dia lagi panas. Dia gak bisa ngapa2 in. Ya udah deh terpaksa aku ngarit in kambingku sendirian. Sepulang dari ngarit, kulihat adikku Kholis masih tegeletak tiduran di depan tivi. Kasihan aku ngeliatnya, akhirnya aku mau buatin dia Nasi Goreng ala Hari.

Sreng Sreng Sreng.

Nasi Goreng ku udah siap. Segera ku beri ke Kholis. Dia suka sekali dan megap2 kepedesan sih kayaknya. Aku ambilin air minum, setelah itu kami nonton TV bareng. Setelah 1 FTV yang backsoundya Opick adikku terlihat sudah sehat.
Dia berlari bolak-balik ke WC katanya sih perutnya mules. Wah senangnya adikku udah bisa lari2 lagi. Kayaknya sakitnya dia udah agak sembuhan.
Ternyata Nasi Gorengku ampuh sekali dalam mengobati dompoannya. Senang sekali Nasi Gorengku ternyata bisa bermanfaat buat kesehatan dia. 

Bertemu Penipu


Orang desa,ngomongin orang desa pasti yang dipikiran orang katrok, ndeso ora weruh teknologi, tani, polos, gampang diapusi. Lha aku ki wong ndeso, dan hari ini aku mau cerita, entah ini tentang aku kena tipu apa gimana simak aja.

Sabtu siang jam 11 aku baru pulang dari ladang sama sapiku, sapiku namanya The red cow which is born behind house when my family and I enjoyed a movie the titled The Civil War that in the movie spiderman fights with Captain America with his strong armor that is created with the strongest metal in world vibranium Imbu, cukup panggil Imbu saja. Setelah mengikat Imbu di kandang aku segera mandi. Habis mandi kutolong ibu membersihkan tempat tidurku kuhidupkan komputer. Abis itu aku buka libreoffice writer karena kerjaan masih banyak dan harus kuselesaikan dan gak lupa kubuka rhythmbox untuk dengerin lagu2 keroncong.

Tiba2 waktu masih dapet 1 halaman pintu rumahku diketuk. Tok tok tok. Segera kumatikan musik di komputer. Aku buka pintu, dan terlihat sesosok sebaya aku. Pake baju putih lengan panjang dan celana hitam slim banget (sampe property selangkangan dia tersakiti sepertinya). Pakek dasi item. Pokonya rapi banget. Aku gak pernah dandan serapi itu kecuali waktu berangkat sunat dulu.

Aku tanya dia ada perlu apa dia jawab katanya mau nawarin bisnis menguntungkan *udah bisa nebak kan apaan, tapi baca sampai habis dulu sob*. Sebagai warga RW 02 dan muslim yang baik aku perislahkan dia masuk dan kuberi dia air mineral gelas (aku selalu sedia air mineral gelas, jadi main kerumahku ya gaes). Dia duduk dan memperkenalkan nama, namanya Ponipu (nama samaran, kita panggil aja dengan Mas Ipu). Aku juga memperkenalkan diriku.

Setelah basa basi selama 12 menitan dia mulai menjelaskan bisnis yang dia akan tawarkan. Dia menawarkan bisnis property yang nilainya miliaran (sebenarnya dia jelasin pake istilah2 bisnis yang aku ga ngerti). Singkatnya dia ajak aku investasi untuk nanemin modal ke situ. Katanya sih itu proyek bakal dapet untung besar. Dia juga nunjukin berbagai dokumen banyak banget. Pokoknya lebih banyak dari berkas skripsiku dan foto2 yang aku ga begitu ngerti tapi yg jelas di foto itu ada gambar excavator ama mobil truck berjejer. Keren. Di desaku belum pernah ada alat2 yang begituan.

Akhirnya setelah dia jelasin “proyek bisnisnya” kepadaku selama stgah jam. Dia ajak aku buat investasi. Nah, aku bingung nih, aku kan cuma orang desa. Masa mau di ajak investasi proyek miliyaran, ini rumah aku jual aja gak ckup buat inves tuh proyek. Katanya sih minimal inves 2 juta dan katanya jika aku udah inves maka setiap akhir bulan aku bakal dapat uang hasil keuntungan 40% dari inves ku itu (jadi aku bakal dapet 40% x 2 juta = 800rb, bener gak sih). Wah, 3 bulan balik modal tuh, 3 tahun udah bisa beli motor. Gak kerja lagi. Ya udah aku percaya. Akhirnya dia minta photocopy identitasku, kebetulan aku baru buat KTP, tapi aku ada Kartu Mahasiswa ya aku photocopy (di rumah ada printer yg bisa copy) dan kukasih ke dia.



Trus dia nulis2 apa gitu di kertas, aku gak mudeng. Abis itu dia nanya ke aku mau inves berapa aku jawab 2 jt aja mas Ipu. Setelah itu dia minta uang ke aku. Nah emang dasar orang desa aku sih 
PERCAYA
Aku bilang gini “mas aku pinjem KTP mu dulu, mau ku photocopy, biar kita sama2 enak kan bisnisnya hehehe”. Dia kasih aku dan aku copy di kamarku.

Dasar otak aku ini rada sableng, biar keren kaya orang2 pebisnis aku pingin punya berkas2 bisnis (karena menurutku orang bisnis itu orang yang bawa berkas banyak kemana2 buat dipamerin). Akhirnya aku buat surat juga. Aku bingung mau buat surat apaan, akhirnya (mungkin ini kekonyolanku) aku buat lah surat pernyataan yang isinya bahwa aku harus terima gaji 40% dari inves ku sebesar 2juta tiap bulan. Dan jadilah suratnya, (maaf gak bisa nampilin tak cari2 kertasnya gak ada karena udah 2 minggu kejadiannya). Tak lupa aku tempelin materai 6000.

Terus aku kembali ke ruang tamu menemui Mas Ipu. Terlihat Mas Ipu masih merokok sambil memainkan HP-nya. Aku duduk dan Mas Ipu berkata “Di sini sinyal X* susah ya, dari tadi kok darurat terus”. Aku diem aja lha wong ini di desa. “Hehehe iya mas, belum beli tower soale”, aku membalas dengan sedkit cengengesan. Aku segera menyerahkan surat perjanjian bisnis yang tadi kubuat.

Mas Ipu    : “Apa ini mas?”

Hari        : “Oh iki surat perjanjian bisnis mas, gen adewe penak kedepane, aku aku koyo wong bisnis tenanan, duwe berkas2 ngono koyo sampean.”

Mas Ipu    : “oh, tunggu saya baca dulu ya mas. (dia membaca nya hamper 5 menit, kemudian dia minta asbak). Mas boleh minta asbak?”

Aku        : Oh iya mas, tak ambilin dulu kebelakang (di rumah gak pernah ada asbak di meja karena di rumah cuma bapakku aja yg ngerokok, itupun harus di luar rumah).

Aku segera kebelakang mengambil asbak itu. Kemudian kembali ke ruang tamu tadi. Dan ternyata eh kejadian gak disangka-sangka, mas Ipu udah ngilang aja. Aku takut dia diculik atau dia adalah jelmaan gendruwo yang mau nyulik ane dgn modus bisnis. Hii ngeri, aku segera masuk kamarku dan bunyikan lagu3 di rhythmbox ku yg aku pause dari tadi.

Malamnya aku cerita sama bapakku. “orang itu gak berani Har. Dia itu niatnya mau nipu kamu. Tapi malah mbok kei surat pernyataan bermaterai yo ora wani dekne”.

Begitulah, dari cerita itu aku dapet pelajaran kalua mau berbisnis dengan orang lain kita harus tahu betul siapa yang kita ajak berbisnis. Jangan mentang2 twaran bisnis yg menggiurkan trus kita mau aja. Di tambah lagi kalau perlu buat lah surat perjanjian, ya biar cari aman aja sih hehehe.